Sabtu, 05 Juni 2010

BANGUNAN TUA DI BANTEN

Keindahan Sebuah Bangunan Tua di Banten
oleh: Mashri
Pengarang : Sriyanto BW Sejati

* Summary rating: 3 stars (6 Tinjauan)
* Kunjungan : 117
* kata:600
*

More About : tempat bersejarah banten
Dengan keberadaan bangunan tua biasa orang Banten menyebut "Benteng Surasowan" merupakan warisan cagar budaya dari peninggalan para pejuang dan pendiri Banten yang masih utuh dan kokoh sampai sekarang, namun hal tersebut sangat di sayangkan kurangnya perhatian, pengawasan, dan pemeliharaan dari pemerintah setempat. Apa yang ada di benak para penguasa, hanya menunggu wejangan simbah, namun sebagai penerus dan anak-cucu Banten merasa tersentuh untuk menjaga dan melestarikan budaya, cagar alam, dan peninggalan yang perlu kita lestarikan dan kembangkan hingga di kenal sampai mancanegara.

Di era modernisasi yang semakin meningkat ditengarai dengan proses urbanisasi di mana-mana, pembangunan baru dan hilangnya jati diri kota-kota asli atau tradisional. Berbagai bentuk Bagunan Mal-Mal dan Kantor-kantor sudah menghiasi di berbagai daerah di pelosok desa, inilah yang seringkali tidak menyisakan tempat untuk bangunan tua atau bersejarah, yang sebenarnya memiliki peran penting dalam pembentukan jati diri suatu tempat. Tidak sedikit warisan arsitektural berupa bangunan bergaya Indo-Eropa (Indische Architektur) di Banten yang menawarkan berbagai keunggulan dalam hal teknik dan seni bangunan. Terlepas dari rendahnya kesadaran publik, disahkannya Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung (UUBG) membuka peluang bagi perlindungan dan pemanfaatan bangunan bersejarah.

Sejarah Kejayaan Banten yang pernah menembus dunia internasional harus dijaga dan lebih ditingkatkan dalam perkembangannya, sampai saat ini pun Banten masih menjadi rujukan referensi di Universitas Al Azhar Kairo, Mesir dan beberapa universitas terkenal di timur tengah. Bahkan Banten pernah memiliki mata uang sendiri yang digunakan untuk berdagang dengan dunia luar. Ironisnya orang-orang Barat dari Denmark, Portugis, Belanda bisa hidup berdampingan di Banten. Ini mencerminkan betapa kejayaan Banten demikian maju saat itu.

Adanya kesultanan Banten, masjid agung, dan menara adalah simbol nilai-nilai religius adalah peninggalan-peninggalan masa lampau yang harus tetap dijaga kelestariannya. Namun sungguh di sayangkan, perlu diakui, musnahnya peninggalan bangunan tua bukan semata-mata karena keterbatasan pengelola secara administratif, tetapi memang juga perbedaan aspirasi dan kepedulian masyarakat akan hakikat pelestarian bangunan tua tersebut. Pada sisi lain, orientasi yang kaku terhadap tuntutan ekonomi tidak hanya menyebabkan disorientasi pembangunan fisik, tetapi juga penolakan terhadap konsep dan produk seni bangunan yang telah terbina, termasuk warisan arsitektur atau bangunan tua yang telah lama tertanam dalam masyarakat Banten.

Peninggalan bangunan tua yang dikuasai individu relatif lebih rentan dihancurkan dibandingkan dengan bangunan milik pemerintah atau negara. Sebenarnya, meskipun dikuasai individu, keberadaan bangunan tua tersebut tetap dapat memberi kontribusi bagi Pemerintah setempat. Hal ini sekaligus menjelaskan bahwa pemilik bangunan tua tidak dapat berbuat sesuka hati terhadap bangunan miliknya, apalagi jika bangunan itu berpotensi menjadi penanda

Bila dibandingkan dengan kota lain, seperti Kraton Solo, Cirebon dan Kraton Jogyakarta, Kasultanan Banten ternyata masih jauh tertinggal dalam segi perlindungan bangunan bersejarah. Banten hingga kini memang belum memiliki aturan baku yang tegas mengatur dan menjamin keberadaan aset budaya bangunan meski UUBG telah menyatakan keberadaan bangunan yang memiliki makna khusus atau bersejarah harus dilindungi.

Meski sejarah Benteng Surasowan sebagai salah satu bangunan tua hingga kini masih menjadi sumber penting bagi pelestarian bangunan lama, namun pelestarian bangunan dan lingkungan atas nama sejarah harus membuka penafsiran baru akan makna baru. Artinya, keterkaitan antar keberadaan bangunan dan eksistensi komunitasnya akan selalu menuntut penafsiran baru. Jadi, bangunan tua seharusnya menjadi investasi kegiatan lain yang mampu memberi perspektif kehidupan baru komunitasnya.

Dengan demikian, maka seharusnya memungkinkan fungsi bangunan lama untuk dimanfaatkan untuk kegiatan baru yang lebih relevan selain memungkinkan pula pengalihan kegiatan lama oleh aktivitas baru tanpa harus menghancurkannya. Sebab penilaian sebuah bangunan layak dilestarikan bukan hanya karena pertimbangan nilai arsitektural murni, namun harus dipadukan dengan pertimbangan kesejarahan, sosio-kultural, keilmuan, dan politis

Diterbitkan di: Januari 05, 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar